Minggu, 11 November 2012

Di Matteo Kritik Liga Premier

Pelatih Chelsea, Roberto Di Matteo melontarkan kritik kepada otoritas Liga Premier. Kritikan itu terkait penolakan penundaan laga melawan Sunderland di bulan Desember.

Jawara Eropa tersebut menginginkan laga di Stadium of Light (kandang Sunderland) tersebut ditunda. Hal ini demi rencana Chelsea yang akan melakoni perjalanan ke Jepang untuk tampil di Piala Dunia Antar Klub.

Menurutnya, seharusnya Liga Premier memberikan dukungan bagi Chelsea untuk sukses di Jepang. Karena kesuksesan tersebut nantinya juga akan berpengaruh kepada sepak bola Inggris dan Liga Premier. Bukan malah sebaliknya.

"Jadi, saya sangat terkejut tentang hal (penolakan) itu. Ini membuatku tidak bisa berpikir penuh. Tampil di turnamen yang padat seperti ini beresiko besar bagi kesehatan pemain. Begitu pula dengan resiko pemain

HTC Windows Phone 8X Segera Masuk Pasa

HTC Corporation mengenalkan dua produk terbarunya yang menyasar segmen pasar perangkat sistem operasi Windows Phone di Indonesia, HTC Windows Phone 8X dan HTC Windows Phone 8S.
“(Ponsel pintar) Android memang berkembang, tapi kami percaya Windows punya pangsa pasar sendiri. Itu tergantung kerjasama antar pelaku industri (ponsel pintar),” kata Country Manager HTC Indonesia, Agus Sugiharto Rusli, di Jakarta, Kamis.
HTC Windows Phone 8X menggunakan prosesor Qualcomm S4 1,5 GHz, kartu memori RAM satu giga bit, layar LCD 2 beresolusi 720 piksel, baterai berkapasitas 1800mAh, ruang penyimpanan internal 16 gigabit, kamera delapan megapiksel (depan), dan kamera 2,1 megapiksel (belakang).
Ponsel berukuran 4,3 inci dan berbobot 130 gram itu juga mendukung konektivitas NFC, selain bluetooth 3.1, WiFi, dan antena GPS internal.
Sementara, HTC Windows 8S menggunakan prosesor Qualcomm S4 1 GHz, kartu memori RAM 512 megabit, resolusi layar WVGA, baterai 1700mAh, ruang penyimpanan internal empat gigabit, dan kamera belakang lima megapiksel.
Ponsel berlayar empat inci dan berbobot 113 kilogram itu juga mempunyai antena GPS internal, tapi hanya mendukung konektivitas bluetooth 3.1 dan WiFi.
Agus mengatakan HTC Indonesia memasang strategi tidak “menganibalisme” harga jual produk agar calon konsumen mempunyai berbagai pilihan produk bersistem operasi Windows Phone maupun Android.
“Windows Phone 8X akan hadir pada akhir November bersama HTC One X+. Seminggu kemudian baru Windows Phone 8S,” kata Agus.
HTC Windows Phone 8X dibanderol Rp5,8 juta sedangkan HTC Windows Phone 8S dibanderol Rp3,2 juta.

Sabtu, 10 November 2012

Ditekan AS, Irak Batal Beli Senjata Rusia

Irak membatalkan kesepakatan pembelian senjata Rusia senilai USD 4,2 miliar atau sekitar Rp 42 triliun secara sepihak. Rusia yang selama ini memasok senjata Irak pun menuding AS dalang dibalik pembatalan tersebut.
Kepala Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia yang berbasis di Moskow, Igor Korotcheno mengatakan, pemerintah Irak memutuskan hubungan jual beli tersebut karena tekanan AS. Pasalnya, jika Irak membeli senjata dari Rusia maka akan membuat AS merasa kehilangan Irak. “Segera setelah kesepakatan itu diumumkan sebulan yang lalu, saya berpikir AS tidak akan membiarkan Irak membeli senjata dalam jumlah besar dari Rusia. Washington (Pemerintah AS) menganggap hal ini sebagai sebuah skenario yang benar-benar tidak dapat diterima,” tuturnya. Menurut Pakar Militer Rusia tersebut, pembatalan kesepakatan senjata sebelumnya tak pernah dialami Rusia.
Sepanjang sejarah perdagangan senjata Rusia, baru kali ini terjadi pembatalan perdagangan. “Benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perdagangan senjata Rusia,” kata Korotchenko. Sementara itu, Perdana Menteri Irak Nouri Maliki mengumumkan pembatalan pada Sabtu (10/11) dengan alasan kecurigaan korupsi dalam kesepakatan tersebut. Dugaan tersebut pun saat ini tengah diselediki Irak. “Kami memutuskan untuk meninjau seluruh kesepakatan. Ada penyelidikan yang sedang berlangsung terkait hal ini,” ujarnya seperti dikutip BBC. Namun menurut Korotchenko, alasan korupsi tersebut tak dapat diterima. Alasan korupsi hanyalah penutup alasan sebenarnya, tekanan AS. “Saya tidak melihat ruang lingkup apapun terkait korupsi dalam kesepakatan Irak. Saya yakin ini hanyalah dalih dan alasan yang membenarkan bahwa Washington meberikan tekanan pada Baghdad (Pemerintah Irak),” ujarnya. Maliki mengatakan pada Oktober lalu, bahwa Irak tak ingin menjadi bagian dari monopoli negara lain.
Meski demikian, ia menghadapi kritik dari lawan politik yang mempertanyakan pembelian senjata dari Rusia. Padahal saat itu kesepakan jual beli dengan AS telah ditandatangani. Penasihat Perdana Menteri Irak, Ali Al-Moussawi mengatakan, Irak harus menjalin kontrak baru dengan Rusia. Pasalnya, Irak masih sangat membutuhkan pasokan senjata. “Kami masih memerlukan senjata sehingga kami akan menegosiasikan kontrak baru. Ini adalah tindakan pencegahan karena dugaan korupsi,” tuturnya. Kesepakatan jual beli senjata termasuk helikopter dan rudal tersebut seharusnya dijadwalkan teken pada bulan Oktober pasca pertemuan Maliki dan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. Jika kesepakatan tersebut sesuai rencana, maka Rusia yang memang menjadi pemasok utama senjata Irak sejak era Saddam Hussein tersebut akan menjadi negara pemasok senjata terbesar kedua setelah AS.
Anggota Parlemen Irak mengatakan, kesepakatan pembelian senjata tersebut dibutuhkan untuk memerangi terorisme. Meskipun demikian, dalam kesepakatan dengan Rusia, menurutnya tak termasuk helikopter tempur jenis 30 Mi-28 seperti yang dikabarkan. Irak tengah membangun kembali angkatan bersenjata sejak AS invasi Irak tahun 2003 lalu untuk menjatuhkan rezim Saddam Hussein. Sejak Saddam Hussein digulingkan, Irak masih belum memiliki angkatan udara. Kebutuhan akan pesawat menjadi fokus Irak untuk operasi pertahanan wilayah udara dan perbatasan. Menurut surat kabar Vedomosti Rusia, penawaran perdagangan Rusia termasuk diantaranya 30 helikopter tempur Mi-28 NE dan 42 peluncur roket.

Timnas Peringati Hari Pahlawan di SUGBK

Timnas Indonesia senior menjalani training centre (TC), Sabtu (10/11) pagi dengan suasana yang berbeda. Bersama dengan pengunjung yang datang, Timnas memperingati hari Pahlawan yang tepat jatuh di hari ini.

TC tadi pagi dipadati oleh suporter yang sepak bola yang tergabung dalam Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI). Mereka hadir dengan membawa spanduk-spanduk bertuliskan dukungan bagi Timnas yang akan tampil di Piala AFF 2012.

"Kami juga memberikan pita merah- putih kepada para pemain. Semoga, semua masyarakat Indonesia mendukung Timnas agar meraih kesuksesan. Selain itu, dengan dukungan yang diberikan, mampu menambah semangat dan daya juang para pemain," terang Koordinator aksi, Andi Windo Wahidin.

Menurut Andi, penyematan pita bertujuan memperingati Hari Pahlawan yang kerap dilakukan pada 10 November. Menurutnya, para pemain Timnas merupakan simbol kepahlawanan yang dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.

"Nilai kepahlawanan, tidak hanya bagi pejuang kemerdekaan era Presiden Soekarno. Melainkan, tersemat dalam upaya pemain yang akan berjuang di ajang Piala AFF 2012," tegasnya.

Tidak hanya itu, mereka juga mengumpulkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan agar tidak ada Timnas selain bentukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Sepanjang jalannya latihan, mereka terlihat serius menyaksikan satu per satu pemain seraya terus membentangkan spanduk dukungan. Puncaknya, setelah latihan usai digelar, FDSI dan masyarakat menyanyikan Lagu kebangsaan Indonesia Raya

Persib Pikir Ulang Ikuti Bandung Challenge Championship

- Persib Bandung kemungkinan besar mundur dari Bandung Challenge Championship 2012. Momen yang kurang tepat menjadi alasan tim asuhan Jajang Nurjaman tersebut.

Dikatakan Jajang, dirinya berharap melakukan uji coba sebagai persiapan menghadapi kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2013 dan Inter Island Cup (IIC) 2012, bukan turnamen seperti Bandung Challenge. Bandung Challenge rencananya digelar 24-25 November, sedangkan Persib harus mengikuti IIC pada 2 Desember mendatang.

“Memang kita upayakan setiap Sabtu ada uji coba. Tapi saya juga agak ragu jika kita terlalu banyak ikut turnamen. Nanti di kompetisi malah antiklimaks,” ujar Jajang ditemui seusai uji coba di Stadion Siliwangi, Sabtu (10/11).

Menurutnya, momen Bandung Challenge tidak tepat jika harus digelar seminggu sebelum persiapan IIC. “Tim ini dibangun untuk kompetisi sama Inter Island, bukan untuk turnamen lain,” tandasnya. Jajang pun berharap agar pemainnya terhindar dari resiko cedera (hug/row)

Perjuangan Tiga Tokoh Indonesia Ini Nyaris Dilupakan I

JAKARTA - Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sejarah mencatat, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di tengah kekosongan kekuasaan akibat Jepang kalah perang melawan Tentara Sekutu. Sebelum dan sesudah kemerdekaan, banyak tokoh-tokoh yang sebetulnya punya peran penting membangun Indonesia, entah disengaja atau tidak, mereka hampir dilupakan.

Sejarawan Aswi Warman Adam dalam buku Menguak Misteri Sejarah, terbitan Kompas Media Nusantara, 2010 menyebut tokoh-tokoh yang nyaris digerus dari catatan sejarah tersebut.

Pada edisi Hari Pahlawan Nasional, Okezone mencoba mengingat kembali sejumlah tokoh nasional yang patut dikenang karena sumbangsih mereka bagi Indonesia. Dalam Menguak Misteri Sejarah, sejumlah tokoh, seperti SK Trimurti, Ang Yan Goan, dan Polisi Hoegeng dikupas sumbangsih mereka bagi Indonesia

1. S.K. Trimurti, Saksi Mata Proklamasi

Dia pejuang perempuan yang berumur panjang dan Ia meninggal di usia 96 tahun, saat indonesia memperingati seabad Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008. Sejarawan Asvi Warman Adam menuliskan S.K Trimurti sebagai saksi mata-telinga pembacaan teks Proklamasi. Bahkan, sebelum Bendera Merah-putih dikibarkan, ada kabar yang menyebut agar itu dilakukan Trimurti.

Trimurti dikenal kritis dan berwawasan jauh ke depan. Menurut Ir Setiadi Reksoprojo, kolega Trimurti, saat menjabat sebagai menteri di kabinet Amir Syarifuddin 1947, suatu ketika membicarakan rencana pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk menjembatani konflik antara Indonesia dengan Belanda.

Kedua negara itu kemudian memilih Amerika Serikat sebagai negara ketiga. Sebetulnya, dalam sidang kabinet itu, Trimurti mengusulkan Uni Soviet yang mewakili Indonesia. Dengan demikian, ia sudah berpikir bahwa Moskow bisa mengimbangi Blok Barat oleh sekutu. (Bersambung)

Bilal bin Rabah Al-Habasyi (wafat 20 H)

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abdud-dar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.
Ketika Makah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci-maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas2.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Radhiyallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Makkah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama “sang pengumandang panggilan langit”, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Makah.
Sementara Al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, Ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiyallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan adzan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan adzan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.
Radhiyallahu ‘anhu.